Kiat Bisnis Batik Ala Diani Kartini, Ahli Bedah yang Jatuh Cinta pada Batik

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 19:50 WIB
Diani Kartini (Dok Diani Kartini)
Diani Kartini (Dok Diani Kartini)

HALLO LAMPUNG– Jatuh cinta pada batik sejak kecil,  dokter ahli bedah Dr dr Diani Kartini SpBKOnk akhirnya terjun menjadi pengusaha batik. Bagaimana strategi Diani menggeluti bisnis ini di sela kesibukannya sebagai ahli bedah?

“Batik  adalah karya seni yang memiliki nilai estetik tinggi.  Karena itu, meski saya berprofesi dokter, cinta saya pada batik membuat saya tetap meluangkan waktu dan memikirkan kain tradisional asal Jawa ini,” kata ahli bedah onkologi dan dosen di Universitas Indonesia dikutip hallolampung.com dari keterangan tertulis.

Hobi berdagang batik, kata Diani memang sudah dilakukan sejak ia masih menjadi mahasiswa. Dulu, jualannya masih terbatas di lingkungan kampus dan orang-orang di sekitar lingkungannya. Namun sejak setahun terakhir ini, Diani serius membuat merek DeKa Batik and Art demi mengembangkan usaha bisnis batiknya.
 
“Sejak  dari sekolah mahasiswa saya suka jualan batik dan berlanjut sampai sekarang. Nah, dari satu tahun lalu serius mendalaminya dengan membuat DeKa Batik  and Art," cerita Diani.

Dr Diani mengakui kecintaannya pada batik ini tak lepas dari lingkungan tempat dibesarkan. Nenek dan orang tuanya berprofesi sebagai pengusaha batik. Wajar jika ia mengenal batik sejak lahir.  Orang tuanya sedikit demi sedikit menularkan ilmunya tentang batik. Tak heran bila detail menciptakan selembar kain putih menjadi suatu karya yang sangat indah dikenalnya dengan baik. Begitu pula ragam motif batik yang memiliki makna, misalnya parang, truntum, sido mukti, dan sebagainya.

Berbekal pengetahuan inilah, dr. Diani tak terlalu rumit ketika menentukan motif batik yang akan dibuatnya. Begitu juga ketika memproduksinya.
"Untuk motif bisa dari motif-motif  yang ada, bisa dimodifikasi.  Bisa juga saya dapatkan dari motif-motif kuno yang ada di buku-buku. Ide juga bisa saya dapat  pada saat jalan-jalan,” ujarnya.

Menurutnya, proses batik pun beragam. Ada batik tulis, batik cap, batik printing, dan sebagainya. Banyak juga yang tidak bisa membedakan proses-proses tersebut.

Baca Juga: Hari Batik Nasional, 5 Alasan Generasi Milenial Menyukai Batik

Dibantu oleh timnya, meski kegiatannya sebagai dokter ahli bedah dan dosen sangat  padat, ia masih dapat memantau produksi DeKa Batik and Art dengan baik selama ini.

"Produksinya  ada  dalam bentuk bahan untuk  pria dan wanita, sarung selendang, sarimbit (sarung selendang dan bahan untuk pria). Selain itu saya juga membuat pernak-pernik dari batik. Misalnya sajadah, aneka tas, seperti tas belanja, tote bag, dan sebagainya,” kata Diani yang menyasar segmen menengah ke atas.

Baca Juga: 3 Motif Batik pada Botol Bayi, Bikin Mamah Muda Gemes

Semua batiknya diproduksi sendiri dengan kualitas terbaik. Lama produksinya tergantung pada proses batiknya. Misalnya batik tulis, satu lembar batik bisa dibuat berbulan-bulan. Kalau batik cap kombinasi bisa lebih cepat.  Tentunya semakin rumit prosesnya, harga batik semakin tinggi.

Baca Juga: 5 Cara Membersihkan Reproduksi Wanita, Jangan Salah Arah

"Untuk promosinya, selain dari mulut ke mulut, juga memanfaatkan media sosial IG. Teman sejawat saya tawarkan juga. Alhamdulillah respons baik. Dengan sekitaran harga mulai dari 100 ribu hingga 4 jutaan, produk @deka_batikandart ini sudah ke beberapa kota di pulau Jawa hingga ke luar pulau Jawa,” ungkap Diani.***

Editor: Diana Alfiatri

Tags

Terkini

Hamish Daud Berbisnis Sampah Lewat Aplikasi

Selasa, 28 September 2021 | 14:04 WIB

Garuda Hadirkan Fitur Pick Up pada Layanan KirimAja

Selasa, 21 September 2021 | 21:55 WIB

Sepi Pengunjung, Mall di Bogor Menjerit

Jumat, 17 September 2021 | 16:07 WIB

Tegas, Erick Thohir Tak Ingin BUMN Jadi Menara Gading

Kamis, 16 September 2021 | 17:01 WIB

Terpopuler

X