Hari Batik Nasional, 5 Alasan Generasi Milenial Menyukai Batik

- Sabtu, 2 Oktober 2021 | 09:55 WIB
Batik Milenial (Dok Desainer Lenny Agustine)
Batik Milenial (Dok Desainer Lenny Agustine)

HALLO LAMPUNG – Selamat Hari Batik Nasional 2 Oktober. Batik menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia. Generasi milenial pun semakin banyak yang menyukai batik dengan gaya dan warna kekinian. Berikut sejumlah alasan anak milenial menyukai batik.

1. Batik Sebagai Media Pemersatu

William Kwan, pemerhati batik mengatakan, batik merupakan salah satu kain nasional Indonesia di antara beragam wastra Nusantara lain, seperti tenun dan ikat. “Dari Sabang sampai Merauke, hampir semua daerah punya batik,” kata William dikutip hallolampung.com dari keterangan tertulis.

“Batik dikenakan dalam berbagai kesempatan oleh individu, lembaga, dan kelompok sosial budaya di Indonesia. Artinya, batik mempersatukan kita dari sisi wastra. Itulah mengapa batik menjadi media pemersatu,” kata William.

2. Hanya Batik Indonesia yang Diakui UNESCO

Budaya batik sesungguhnya bisa ditemukan di banyak negara, termasuk Cina, India, Jepang, Malaysia, Sri Lanka, dan Afrika Barat. Karena itu, batik pun merupakan budaya dunia. Namun, dari sekian banyak budaya batik di dunia, yang sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO adalah batik Indonesia. Dalam inskripsi UNESCO dijelaskan bahwa budaya batik itu harus memenuhi berbagai kriteria, termasuk tinjauan sejarah bahwa sudah sejak lama budaya batik melebur dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Terkait dengan budaya batik, berarti teknik membatiknya pun diakui oleh UNESCO, yaitu menggunakan alat canting dan cap untuk menorehkan cairan malam panas. “Penegasan ‘cairan malam panas’ ini menjadi penting, karena belakangan beredar pula batik dengan teknologi printing yang memakai malam dingin, yang dapat disalahgunakan sehingga seakan-akan batik tulis,” tutur William.

Ia memandang, pengakuan UNESCO terhadap budaya batik Indonesia menjadikan batik Indonesia punya brand image yang kuat. Namun, brand image tersebut masih belum dioptimalkan. Padahal, dengan bekal brand image tersebut, Indonesia bisa mengembangkan batik di level internasional.

“Pengakuan UNESCO merupakan kesempatan berharga untuk melestarikan dan mengembangkan budaya batik sebagai warisan nenek moyang Indonesia sesuai perkembangan zaman,” tegas William.
 
3. Menyimpan Sejarah Budaya Sangat Panjang

G.P. Rouffaer, peneliti dari Belanda, memperkirakan, budaya batik Indonesia diperkenalkan dari India atau Sri Lanka pada abad ke-6 atau ke-7 Masehi. Namun, pendapat ini sulit dikonfirmasi. “Yang jelas, sejak zaman Sultan Agung, sekitar tahun 1600-an, istilah ‘batik’ muncul dalam dokumen tertulis,” kata William.

Agak sulit menelusuri sejak kapan batik Indonesia mulai lahir. Karena, iklim Indonesia yang cenderung lembap membuat kain tidak mungkin disimpan lama. William memperkirakan, secara umum koleksi tertua kain batik Indonesia berusia sekitar 200 - 300 tahun. Dengan demikian, kita tidak bisa lantas mengklaim bahwa teknik batik pasti berasal dari Indonesia.

“Lain halnya dengan canting. Alat membatik ini memang ditemukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Berkat canting, batik jadi sangat rapi dan halus, karena ujung canting itu serupa ujung pulpen dan memiliki beberapa ukuran. Sebelum canting ditemukan, orang membatik dengan bambu atau kayu yang diruncingkan, sehingga hasilnya tidak bisa rapi,” kata William.
 
4. Sejak Dulu Pakai Pewarna Alami

Batik Indonesia sudah menggunakan pewarna alami sejak zaman dulu kala. Bahan-bahan pewarna diambil dari alam, termasuk kayu, bunga, akar, buah, dan juga hewan. Contohnya, warna biru diambil dari tanaman nila atau indigo, warna merah dari kulit akar mengkudu yang diperkuat dengan tumbukan kayu jirek, serta warna soga dari campuran berbagai jenis kulit kayu tegeran, tingi, dan jambal. Hanya saja, proses pembuatan pewarna alami ini memang lama dan rumit.

“Ketika bicara soal batik ramah lingkungan, kita akan melihat batik dari sisi proses produksi. Yang paling signifikan adalah urusan pewarna. Sepanjang proses pembuatannya menggunakan pewarna alami, batik itu ramah lingkungan. Dalam artian, tidak ada limbah yang membahayakan lingkungan hidup. Namun, pengertian ramah lingkungan perlu diperluas. Kalau pohon kita tebang untuk diolah menjadi pewarna dan lahannya tidak ditanami lagi, artinya jadi kurang ramah lingkungan,” kata William.

5. Kaya Motif dan Warna

Halaman:

Editor: Diana Alfiatri

Tags

Terkini

Doa Hujan Lebat yang Dibaca Nabi

Senin, 18 Oktober 2021 | 15:23 WIB

5 Cara Mindfullness Bikin Diet Sukses

Kamis, 7 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Terpopuler

X